Karimon Topeng

 

Karimon Topeng





KARIMOEN

Pengukir Wajah Nenek Moyang Tokoh Wayang Topeng

Di Malang

Abstrak: Karimoen adalah salah satu seniman wayang topeng di Malang. Silsihah keluarganya sebagai seniman wayan topeng dimulai dari kakeknya yang bernama Serun, kebudayan diturukan pada ayahnya yang bernama Kiman atau disebut dengan panggilan pak Pario (nama kecil Karimoen).

Karimoen mempelajari topeng sejak tarhun 1933-an, Setelah ayahnya meninggal Karimoen memimpin perkumpulan wayang topeng di desa Kedungmonggo hingga sekarang. Bahkan Karimoen hingga kini aktif sebagai pengrajin topeng, baik topeng untuk pertunjukan atau topeng untuk cindra mata.

Katakunci: Wayang, Topeng, biografi

Wayang Topeng Malang yang berkembang di Dusun Kedongmonggo adalah salah satu perkumpulan wayang topeng yang tersebar di daerah Malang. Berbagai peneliti berasumsi bahwa wayang topeng di Malang memiliki kaitan langsung dengan pertunjukan yang pernah berkembang pada masa Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan Wayang Wwang . Akan tetapi wayang topeng yang berkembang di Dusun Kedungmonggo yang baru dapat diperkirakan hadir sekitar akhir abad XIX.

Dusun Kedungmonggo adalah sebuah dusun yang berada di wilayah Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Letak Dusun Kedungmonggo yang merupakan bagian dari Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang dapat disimak pada peta Jawa Timur, sebagai berikut.

Dusun Kedungmonggo merupakan salah satu daerah pertumbuhan wayang topeng di Kabupaten Malang yang tergolong tua. Hingga saat ini sudah mencapai generasi ke 5, yaitu bermula dari Kek Serun, cicit dari mbah Karimoen. Kini sudah beralih pada generasi kelima, yaitu cucu-cucu Karimoen. Mereka ada yang menjadi penari, pengendang, penabuh gamelan, dan ada yang menjadi pengrajin topeng.

Pada awalnya, perkumpulan wayang topeng di Desa Kedungmonggo dirintis oleh salah seorang warga Dusun Kedungmonggo yang bernama Kek Serun. Serun dan keluarganya adalah keturunan etnik Madura. Tidak dijumpai penjelasan dan dokumen tentang asal-usul mereka. Tetapi mayoritas penduduk Dusun Kedungmonggo bagian Timur adalah berdarah Madura. Karakteristik etnik Madura juga masih tampak pada Karimoen dan saudara-saudaranya. Mak Cilik (adik Karimoen) masih sering menggunakan bahasa Madura dengan Karimoen atau tetangganya. Chatam AR memperkirakan, bahwa karaktersistik etnik Madura yang mengalir dalam diri Karimoen mempunyai pengaruh yang kuat pada teknik tari topeng yang dikuasai Karimoen, bahkan secara umum gaya tari wayang topeng di Dusun Kedungmonggo lebih tampak kasar dibanding dengan gaya tari wayang topeng dari daerah Malang yang lain. Bahkan sangat jauh berbeda dengan gaya tari wayang topeng di daerah Malang bagian timur, yaitu cendrung lebih halus. Hal ini dimungkinkan juga oleh gaya para tokoh pengembangnya, seperti Samut dan Rasimoen (Chattam AR, wawancara 21 Nopember 2003).

Serun dalam mengelola pementasan wayang topeng, sudah dipastikan membutuhkan biaya yang besar. Terutama untuk membeli perlengkapan, terdiri dari gamelan, kostum dan topeng. Perihal pembelian topeng, waktu itu tergolong langka. Pembuat topeng yang terkenal ada di Desa Polowijen.

Kek1 Serun setelah merasa memiliki kemampuan menari wayang topeng kemudian Ia kembali ke desanya di Dusun Kedungmonggo. Ia mulai mendirikan perkumpulan wayang topeng dengan penari dari masyarakat setempat. Walaupun pada masyarakat Desa Kedungmonggo sebagian besar sebagai pesilat, memiliki karakteristik yang temperamental sikap agresif, keras, dan emosional ternyata memberikan corak yang khas pada gaya tari topeng yang dikembangkan oleh Kek Serun. Perkumpulan wayang topeng di Dusun Kedungmonggo dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Wayang Topeng Madura. Meskipun julukan tersebut tidak sempat populer karena perbedaan wayang topeng dari Dusun Kedungmonggo hanya sebatas yang bersifat personal, yaitu gaya yang dipengaruhi oleh karakteristik etnis penari-penarinya. Di samping penari-penarinya umumnya memiliki dasar teknik pencak silat, ragam dan struktur tari tidak jauh berbeda dengan wayang topeng dari daerah lain.

Karimoen memperkirakan Kek Serun dilahirkan sekitar tahun 1860-an. Ayah Karimoen sering menceritakan perihal keluarga Serun. Serun merupakan salah seorang petani yang kaya, tanah dan ternaknya banyak. Oleh karena itu, Kek Serun memiliki kemampuan untuk membiayai kebutuhan pementasan wayang topeng. Dimungkinkan juga pada waktu itu Kek Serun membeli topeng dari Reni. Karena pementasan wayang topeng di Dusun Kedungmonggo menjadi perkumpulan yang dikenal oleh masyarakat kurang lebih sekitar 1890-an, mencapai popularitasnya sekitar tahun 1917. Karena pertumbuhan Wayang Topeng Kedungmonggo berada di bagian Selatan, besar kemungkinan tidak terjangkau oleh Pigeaud. Mengingat daerah selatan Malang pada waktu itu masih tergolong rawan dan banyak kerusuhan. (Tim penyusun sejarah Daerah Jawa Timur, 1978: 11)

Serun meninggal sekitar tahun 1930-an, perkumpulan wayang topeng dilanjutkan oleh putra tunggalnya yang bernama Kiman, Ia lebih dikenal dengan sebutan Pak Pario. Sebagai sebuah perkumpulan kesenian tradisional, peralihan generasi ini tidak banyak persoalan. Bahkan, Kiman benar-benar menunjukkan bakat yang istimewa dan sangat menguasai bidangnya. Selain Kiman, perkumpulan wayang topeng di Dusun Kedungmonggo memiliki keistimewaan sehingga menjadi populer. Keistimewaan tersebut dikarenakan oleh didukung sepupu Kiman yang bernama Rasimen. Rasimen merupakan dalang yang sangat potensial dan memiliki kekhasan yang tidak tertandingi hingga tahun 1980-an. Keunikan dalang Rasimen yang akrab dipanggil Mbah Nek ialah mempunyai vokal yang mantap dan keras, sehingga dinamika pementasan selalu terasa meriah. Suara Rasimen yang berupa senggakan dan alok yang tak henti-hentinya, di samping ia mampu membangun karakteristik vokal tokoh yang khas. Bahkan Karimoen (kemenakan Rasimen) selalu memuji kepiawaian pemannya yang benar-benar tidak ada duanya, Ciri khas Wayang Topeng Kedungmonggo merupakan salah satunya dikarenakan oleh kemampuan Rasimen mendalang.

Sekitar tahun 1930-an, Wayang Topeng pimpinan Kiman diceritakan oleh Karimoen dan adiknya Painten (mak cilik), sebagai berikut. Waktu itu perkumpulan wayang topeng di Kedungmonggo banyak pengikutnya, bahkan sering menerima permintaan pentas ke berbagai daerah yang cukup jauh, seperti di Pasuruan, Probolinggo, hingga ke Lumajang. Kalau tidak ada permintaan pentas di luar daerah, seringkali pergi keliling ke desa-desa, khususnya desa-desa yang selesai mengadakan panen raya. Kegiatan keliling ini disebut ketengan2 atau mirip dengan kegiatan ngamen, meskipun memiliki cara tersendiri, yaitu: rombongan wayang topeng yang berkeliling selalu singgah pada dusun-dusun yang sedang panen raya, di sana meminta ijin pada Lurah atau prabot desa setempat. Kemudian meminta ijin pula pemilik rumah yang halamannya cukup luas. Di tempat tersebut, mulai menggelar lante (alas semacam tikar dari penjalin) yang sekelilingnnya dibatasi tali yang melingkar segi empat. Setiap orang yang menonton membayar sejumlah uang, bisa ditentukan atau memberikan secara sukarela.

KARIMOEN SEBAGAI PENARI WAYANG TOPENG

Karimoen dalam mempelajari tari Topeng sangat bersemangat. Waktu itu Karimoen belum khitan, Jika tiba waktu latihan topeng, Karimoen tidak ketinggalan. Karimoen selalu menjadi peserta yang selalu ada di depan meskipun waktu itu peserta latihan topeng umumnya orang dewasa (Painten, wawancara 15 Januari 2003).

Karimoen semakin tampak bersungguh-sungguh mempelajari topeng sekitar tahun 1933. Tari yang sangat digemari ialah jenis tari gagah, tari Patih atau tari Beskalan Lanang, Klana, atau Bapang. Karimoen juga diharuskan oleh ayahnya belajar menabuh kendang dan mendalang. Oleh sebab itu, hingga sekarang ia tergolong tokoh yang menguasai berbagai keterampilan dalam bidang pertunjukan wayang topeng, termasuk kemampuannya mengukir topeng.

Sekitar tahun 1940-an hingga jamang Jepang, wayang topeng masih aktif pentas, tetapi ketika Jepang masuk tahun 1943 kegiatan pentas dihentikan. Bahkan, selama itu nyaris tidak ada orang yang menyelenggarakan hajat besar-besaran, atau menanggap pementasan. Kondisi sulit ini berlangsung hingga tahun 1946, yang kemudian diikuti oleh agresi militer hingga tahun 1950-an.

Pada saat perang kemerdekaan, keluarga Kiman mengungsi ke Ngajum. Semua barang-barang yang terdiri dari prabot rumah, termasuk perlengkapan wayang topeng tidak dapat dibawa. Selama waktu pengungsian, barang-barang itu ada yang dicuri orang, atau rusak dimakan rayap.

Pada kondisi yang sulit ini, Kek Kiman meninggal dunia pada tahun 1948. Pada awalnya Karimoen sangat sulit mengumpulkan kembali pemain wayang topeng, di samping perlengkapan wayang seperti topeng, kostum, dan gamelan sudah banyak yang rusak dan hilang. Waktu itu Karimoen dan Juminah (istri pertama) bertekad memulai menghidupkan kesenian topeng milik ayahnya, maka mereka bertekat mengumpulkan uang untuk membeli topeng di Desa Senggereng, yaitu pada kelompok wayang topeng pimpinan mbah Seno (Bardjo, wawancara 11 Desember 2002).

Pada tahun 1950-an, Karimoen beserta istrinya mulai berhasil menghimpun penari dan pengrawit untuk menghidupkan wayang topeng, Selama 1-2 tahun kemudian berhasil menyelenggarakan pementasan. Bahkan, setelah itu mulai mengalir permintaan pentas untuk memenuhi kegiatan hajatan, untuk memenuhi kaul, atau membayar nazar (memenuhi kesanggupan atas janji yang diucapkan, misalnya anda berjanji akan mementaskan wayang topeng jika anak sembuh dari sajit). Membayar nazar sering kali dilakukan oleh penduduk Dusun Kedungmonggo atau sekitarnya, seperti yang dilakukan oleh Keluarga Turima, salah satu anggota wayang topeng di Dusun Kedungmonggo. Keluarga Turiman berjanji akan mementaskan wayang topeng jika anaknya dikaruniai putra dan selamat. Setelah cucu keluarga Turiman genap berusia tiga bulan, mereka menyelenggarakan selamatan dan mementaskan pertunjukan wayang topeng. (pementasan Wayang Topeng, 13 Juli 2003).

Masa ramai tanggapan sekitar tahun 1950-an membuat Wayang Topeng Kedungmonggo dikenal kembali hingga ke luar daerah. Waktu itu tanggapan hingga mencapai daerah-daerah Probolinggo, Lumajang, Pasurusan, Sidoarjo dan seluruh desa-desa di Malang. Menjelang tahun 1960, situasi kesenian tampak ada suatu gairah yang sangat luar biasa pesatnya, tetapi untuk perkembangan wayang topeng menjadi masa yang mulai terasa terjadi kendala. Kendala yang dirasakan oleh Karimoen (sebagai pimpinan rombongan wayang topeng) yaitu adanya persaingan dengan kehadiran tontonan yang lebih baru, salah satunya ialah kehadiran sandiwara ludruk, ludruk adalah sebuah bentuk stambul Jawa yang berkembang dari pertunjukan yang disebut Besutan. Penyajiannya yang bersifat realis dan penyajian dengan teknik penggung yang bersifat komikel. Sementara penyajian wayang topeng tidak memiliki kemungkinan untuk berkembang ke arah pertunjukan populer.

Suasana persaingan ini sebenarnya tidak disebabkan oleh kehadiran ludruk, tetapi adanya perubahan selera masyarakat, yaitu memilih hiburan yang lebih bersifat dinamis, atraktif, dan menyajikan lakon-lakon yang bervariasi. Hal itu seolah-olah menjadi terasa adanya persaingan antara wayang topeng dengan ludruk.

Sekitar tahun awal tahun 1960-an, Karimoen dan Taslan Harsono mulai terasa surut dalam membina wayang topeng, aktivitas pementasan hanya melayani permintaan anggota yang menyelenggarakan hajat, atau kegiatan yang berkatian dengan kepentingan desa. Aktivitas pentas berhenti total ketika terjadi tragedi politik di tahun 1965. Anggota perkumpulan wayang topeng dan warga di Dusun Kedungmonggo menjadi korban, gara-gara memiliki seperangkat gamelan atau gamelannya disewakan untuk aktivitas LEKRA ‘Lembaga Kesenian Rakyat’, atau pernah terlibat acara pementasan partai. Akibatnya kesenian Wayang Topeng dari Keluarga Karimoen berhenti total (Sunari, wawancara 2 Februari 2003).

Pada pertengahan tahun 1970-an, masyarakat Dusun Kedungmonggo bangkit motivasinya mempelajari wayang topeng. Pesertanya tidak hanya penari-penari tua, tetapi para pemuda juga banyak yang mengharapkan untuk dapat pentas di kota-kota besar. Bahkan, ketika mengadakan persiapan pentas di istana kepresidenan tahun 1978, saat itulah Karimoen mendapat kesempatan untuk berjabat tangan dengan Presiden Soeharto, setelah itu ibu Negara (Tien Soeharto) memesan tiga kotak topeng. Masing-masing kotak berisi 65 topeng (Dokumen pengantar daftar topeng yang dikirimkan ke Jakarta, tertanggal 17 Januari 1979) .

Beberapa bulan setelah pementasan Festival Jakarta 1978, banyak anggota yang mulai tidak aktif berlatih. Sebagian penari tua dan beberapa penari muda merasa dirinya tidak mungkin menjadi penari berkualitas. Sebagian dari mereka yang mengundurkan diri ialah mereka yang tidak terpilih mendukung pementasan ke Jakarta. Belum tuntas masalah keanggotaan ini diselesaikan, tiba-tiba perlengkapan dan topeng inventaris perkumpulan dicuri orang. Semua topeng lama dan juga kostum serta jamang ‘mahkota’ topeng yang bagus lenyap. Kondisi ini sempat membuat perkumpulan agak terhambat pengembangannya. Kondisi ini tidak menjadi masalah yang besar, karena waktu itu Karimoen tergolong orang mampu membiayai perkumpulan, setidaknya beberapa perlengkapan masih memungkinkan untuk dibuat sendiri.

Produktivitas Karimoen dan putranya, Taslan Harsono tidak kendor. Keduanya, lebih mengkonsentrasikan pada pembenahan materi tari dan menekuni seni ukir topeng, Chattam AR juga ikut serta meningkatkan mutu pementasan. Waktu itu Chattam AR telah mendapatkan pengalaman baru dari Padepokan Bagong Kussudiardjo Yogyakarta kurang lebih satu tahun (1978-1979). Tahun 1980-an, wayang topeng Kedungmonggo merupakan masa renovasi. Kualitas gerak, penampilan, serta produk topeng menjadi prioritas utama. Bahkan Karimoen, Kasdu (pengendang), dan Chattam AR mendapat kehormatan sebagai dosen luar biasa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta. Karimoen juga dipercaya untuk memberikan materi tari di Program Pendidikan Tari di IKIP Surabaya (sekarang UNESA). Sementara di daerah Malang, Chattam AR. dan Taslan Harsono dipercaya oleh DEPDIKBUD kabupaten Malang membina guru-guru mulai dari SD, SLTP dan sebagian SLTA. Hasil kerja dari dua orang tokoh topeng Kedungmonggo tersebut melahirkan gending iringan tari topeng (seperti kaset iringan tari Topeng Bapang, nomor 144/KANWIL. 13/07/A I/ILJS/X/’83. Malang, Jayabaya).

Sekitar tahun 1994, tim seni rupa dan kerajinan IKIP Malang juga memberikan bantuan berupa pelatihan ukir topeng, dengan harapan kerajinan membuat topeng berkembang menjadi model sebuah produk kerajinan, yaitu dijadikan berbagai macam. cindramata berbentuk topeng kecil.

Ketika topeng dirasakan mempunyai peluang besar untuk menjadi barang kerajinan, tari topeng Kedungmonggo juga mulai popular, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa di Surabaya. Karimoen dan Taslan Harsono lebih bersemangat dalam mendalami dan mengembangkan kesenian warisan orang tuanya, ketika perhatian pihak PEMDA Kabupaten Malang juga memperhatikan, yaitu dengan dibuatkan sebuah pendapa untuk pentas dan berlatih seluas 15 x 15 m, di atas tanah seluas 25 x 40 meter. Bantuan pendapa tersebut dibangun di atas tanah milik anak Karimoen yang bernama Gini. Pendapa yang menghadap ke selatan itu diresmikan oleh Bupati Malang, Edi Selamet pada tahun 1982.

Sejak tahun 1990-an, perkembangan wayang topeng di Dusun Kedungmonggo seringkali dinyatakan oleh PEMDA Kabupaten Malang sebagai aset daerah. Oleh sebab itu, pihak PEMDA kabupaten Malang selalu mengikutsertakan wayang topeng Dusun Kedungmonggo pada berbagai festival dan misi-misi kebudayaan serta pementasan pada kegiatan promosi pariwisata daerah. Sehingga pendukung perkumpulan wayang topeng di Dusun Kedungmonggo terasa adanya perubahan sikap. Mereka merasa kesenian yang bertahun-tahun dimiliki merupakan sebuah sumber penghasilan sampingan. Sungguhpun demikian, beberapa anggota masih merasa bahwa perkumpulan wayang topeng di dusunnya merupakan bagian dari keberadaan dusun itu sendiri, akibat yang positif ialah dapat terselenggaranya gebyag pada hari Senen legi setiap bulan. Bahkan, sewaktu penelitian ini berlangsung, upaya regenerasi mulai nampak, yaitu telah mampu mementaskan anak-anak yang berusia sekitar 8 hingga 15 tahun.

KARIMOEN SEBAGAI PENGUKIR TOPENG

Jauh sebelum masa popularitas Reni, salah satu pengukir topeng yang hidup pada akhir abad XX, pertunjukan wayang topeng telah tersebar desa-desa seantero wilayah daerah Malang, seperti daerah-daerah setingkat desa atau dusun, diantarannya adalah di Wajak, Dampit, Ngajum, Pucangsanga, Jenggala, Senggereng, Jambuer, dan Pucangsanga, Undakan, Jabung, serta di daerah Slilir.

Sekitar tahun tahun l970-80-an masih ditemukan keberadaan tokoh-tokoh wayang topeng yang tersebar di berbagai desa-desa di Kabupaten Malang. Seperti mbah Wiji salah satu tokoh wayang topeng yang berusia 100 tahun dari Desa Kopral, Sumberpucung. Wiji memiliki sejumlah pengalaman yang pada umumnya tidak berbeda dengan tokoh-tokoh wayang topeng yang lain, seperti halnya Reni, salah satu tokoh legendaries yang disebut oleh Pigeaud (1938) dalam bukunya Javaanse Volksvertoningen.

Mbah Wiji pernah dikenal sebagai dalang wayang topeng, pengukir topeng, dan penari. Topeng-topengnya banyak dibeli oleh perkumpulan Wayang Topeng di Desa Jenggala, Kecamatan Kepanjen, dan dusun-dusun di Malang bagian barat.

Sekarang pengukir topeng seperti mbah Wiji sudah sangat langka. Menjeleng pertengahan tahun 2004, Rasimoen tokoh Gunungsari dari desa Glagahdawa yang juga salah satu pengukir topeng, meninggal. Saat ini satu-satunya pengukir topeng yang tergolong senior tinggal satu orang, yaitu Karimoen, salah satu tokoh lengendaris wayang topeng di Dusun Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Malang.

Karimoen, kini yang bersusia kurang lebih 80 tahun, tinggal disebuah rumah sederhana bersama istrinya bernama Mariam. Karimoen adalah tokoh wayang topeng generasi keempat dari pendiri wayang topeng di desanya, yaitu kek serum, kakeknya. Kek serum pernah belajar pada penari topeng terkenal murid dari Reni, yaitu Dulrahman putra seorang wedana di Kepanjen. Menurut Karimeon penari yang disebut oleh mbah Wiji bernama Dulrahman itu adalah Gurawan.

Kepiawaian Karimoen mengukir topeng atas niatnya sendiri, karena ayahnya Parijo melarangnya mengukir topeng. Tetapi Karimoen selalu mencuri waktu untuk belajar mengukir, biasanya waktu berada di sawah sambil mengembalakan sapi. Karena Karimoen berkesar hati belajar mengukir topeng, ayahnya tidak dapat mencegah. Ayahnya merestui dengan melakukan upacara, yang disebut tebusan. Karena Karimeon belajar mengukir tanpa belajar pada seorang guru, maka upacara yang diselenggarakan disebut tebusan, artinya membayar.

Hingga saat ini, cara mengukir yang dikuasai oleh Karimoen adalah cara hasil belajarnya sendiri. Bahkan berbagai tahap pengukiran selalu direnungi, setidaknya diharapkan apa yang dilakukan selalu memberikan pemahaman untuk membuka mistri kehidupan ini. Karimeon selalu menganggap, bahwa kayu tidak berbeda seperti halnya manusia yang memiliki roh, maka sewaktu hendak menebang diadakan upacara kecil. Intinya memohon, bahwa apa yang akan dilakukan pada pohon yang dimaksud adalah sebuah upaya untuk menyempurnakan. Jika permohonan tersebut diterima, maka baru dilakukan penebangan.

Selama beberapa saat, pohon yang telah ditebang dibiarkan di halaman. Harapannya agar kayu menjadi kering. Selanjutnya baru dilakukan pemotongan; setiap potongan sepanjang kurang lebih 30 Cm. Perlu diperhatikan juga, pemotongan tidak boleh terbalik, antara ujung dan pangkal. Sebab jika nyungsang (terbalik) akan berakibat buruk pada pemakai topeng, seringkali kemasukan roh yang jahil.

Perlu diketahui, Karimoen yang telah lebih dari 50 tahun mengukir topeng sangat yakin bahwa leluhur (nenek moyang) yang diukir dan dimainkan adalah leluhur dari Kediri, karena topeng-popeng yang diukir dan disungging adalah tokoh-tokoh yang bersumber dari sastra Panji. Ada kurang lebih 65 karakter tokoh, semuanya raut topeng tersebut semuannya tercatat dalam pikirannya, tidak ada catatan khusus. Ini yang disebut karimoen dengan sastra tanpa tulis (tradisi lisan) atau tulis tanpa papan (tradisi mengingat).

Karimoen marasa bangga, karena selama ini dirinya telah dikaruniai menjadi abdi yang bertugas menjaga leluhurnya, yaitu para Panji. Para Panji yang jaman Kediri itu tidak mati, hanya raganya yang rusak, tetapi rohnya tetap ada bersama-sama dengan dirinya, disebuah rumah desa yang sederhana, disinilah kerajaan Para Panji dari Kediri yang terakhir.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama